Memilih Bidang Pekerjaan di Akhir Zaman
Mendalami masalah akhir zaman, tidak harus membuat kita pesimistis dalam menghadapi kehidupan ini. Justru sebaliknya, bila kita sadar bahwa ‘boleh jadi kiamat sudah dekat’, maka kita akan berusaha mencari bekal sebanyaknya untuk hidup sesudah itu, yaitu kehidupan yang abadi di akhirat kelak.
Kesadaran akan akhir zaman juga akan membuat kita buru-buru bertaubat bila dalam perjalanan hidup kita ada hal-hal yang kita langgar – mumpung masih ada waktu! Buru-buru kita ke kembali ke jalan Allah menyambut seruan-Nya: “Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (QS 51 :50).
Nah bagaimana dalam konteks bidang pekerjaan, bila dalam pekerjaan yang kita tekuni tersebut kita masih terlibat dalam hal yang sangat terlarang, seperti riba, riswah (suap), mengambil hak orang lain, berbuat kerusakan di bumi, menzalimi rakyat, dan lain sebagainya?
Banyak potensi pekerjaan yang bisa kita pilih, yang aman dari hal-hal yang terlarang tersebut. Bahkan banyak pula jenis pekerjaan yang bisa kita lakukan tersebut yang memiliki dasar kuat di Al-Qur’an ataupun di hadis. Kaidahnya adalah, apa yang disebutkan di Al-Qur’an ataupun hadis yang sahih adalah benar ketika diturunkan. Benar saat ini, dan akan tetap benar sampai akhir zaman.
Mengapa demikian? Karena agama ini adalah agama akhir zaman, maka segala tuntunannya pasti valid sampai akhir zaman, termasuk tuntunannya dalam hal pekerjaan ini.
Pekerjaan bertani atau bercocok tanam misalnya, akan selalu baik sampai akhir zaman karena kita bahkan diperintahkan untuk tetap menanam benih yang ada di tangan kita, walaupun seandainya proses terjadinya kiamat sudah mulai.
Contoh pekerjaan lain yang juga insy Allah valid sampai akhir zaman adalah menggembala (memelihara) kambing. Untuk yang satu ini, Imam Nawawi yang sangat mashur dengan kitab yang menjadi rujukan para juru dakwah hingga kini, membahas secara khusus dalam kitabnya Riyadhush Shalihin.
Dalam bab Beruzlah beliau menyampaikan bahwa beruzlah atau menyendiri ketika moral manusia sudah rusak, takut agama ini terfitnah, dan takut terjerumus dalam keharaman dan syubhat, adalah hal yang disunahkan. Nah ketika kita menyendiri dan takut kepada hal yang haram, lantas apa pekerjaan kita untuk menghidupi diri dan keluarga kita? Memelihara kambing, itulah salah satu jawabannya.
Untuk jawaban ini tidak tanggung-tanggung Imam Nawawi memberikan tiga hadis sahih sebagai rujukannya. Berikut adalah hadis-hadis tersebut:
Dari Abu Hurairah R.A., dari Nabi SAW, dia bersabda: "Setiap Nabi yang diutus oleh Allah adalah menggembala kambing". Sahabat-sahabat beliau bertanya: “Begitu juga engkau ?”; Rasulullah bersabda: “Ya, aku menggembalanya dengan upah beberapa qirath penduduk Mekah.” (H.R. Bukhari)
Dari Abu Said berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Hampir saja harta muslim yang terbaik adalah kambing yang digembala di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya dia lari dari beberapa fitnah (kemungkaran atau peperangan sesama muslim).” (H.R. Bukhari)
Dari Abu Hurairah R.A. dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Termasuk penghidupan manusia yang terbaik, adalah seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya di jalan Allah. Dia terbang di atasnya (dia menaikinya dengan jalan yang cepat). Setiap mendengar panggilan perang dia terbang di atasnya dengan bersemangat untuk mencari kematian dengan jalan terbunuh (dalam keadaan syahid) atau mati biasa. Atau seorang laki-laki yang menggembala kambing di puncak gunung dari atas gunung ini atau lembah dari beberapa lembah. Dia mendirikan salat, memberikan zakat, dan menyembah kepada Tuhannya hingga kematian datang kepadanya. Dia tidak mengganggu kepada manusia, dan hanya berbuat baik kepada mereka.” (H.R. Muslim).
Jadi menggembala (memelihara) kambing bukan hanya commercially feasible seperti yang sudah saya tulis sebelumnya; tetapi juga memiliki dasar yang sahih. Maka tidak malu saya berulang kali mengajak para pembaca untuk belajar menekuni profesi yang sering dianggap kuno oleh sebagian orang di zaman teknologi ini. Bagi yang berminat, silakan datang ke lokasi kandang kami di Jonggol dan mulai belajar mempersiapkan diri dengan profesi akhir Jaman. Insya Allah.
(sumber: hidayatullah.com)
Memilih Bidang Pekerjaan di Akhir Zaman
Mendalami masalah akhir zaman, tidak harus membuat kita pesimistis dalam menghadapi kehidupan ini. Justru sebaliknya, bila kita sadar bahwa ‘boleh jadi kiamat sudah dekat’, maka kita akan berusaha mencari bekal sebanyaknya untuk hidup sesudah itu, yaitu kehidupan yang abadi di akhirat kelak.
Kesadaran akan akhir zaman juga akan membuat kita buru-buru bertaubat bila dalam perjalanan hidup kita ada hal-hal yang kita langgar – mumpung masih ada waktu! Buru-buru kita ke kembali ke jalan Allah menyambut seruan-Nya: “Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (QS 51 :50).
Nah bagaimana dalam konteks bidang pekerjaan, bila dalam pekerjaan yang kita tekuni tersebut kita masih terlibat dalam hal yang sangat terlarang, seperti riba, riswah (suap), mengambil hak orang lain, berbuat kerusakan di bumi, menzalimi rakyat, dan lain sebagainya?
Banyak potensi pekerjaan yang bisa kita pilih, yang aman dari hal-hal yang terlarang tersebut. Bahkan banyak pula jenis pekerjaan yang bisa kita lakukan tersebut yang memiliki dasar kuat di Al-Qur’an ataupun di hadis. Kaidahnya adalah, apa yang disebutkan di Al-Qur’an ataupun hadis yang sahih adalah benar ketika diturunkan. Benar saat ini, dan akan tetap benar sampai akhir zaman.
Mengapa demikian? Karena agama ini adalah agama akhir zaman, maka segala tuntunannya pasti valid sampai akhir zaman, termasuk tuntunannya dalam hal pekerjaan ini.
Pekerjaan bertani atau bercocok tanam misalnya, akan selalu baik sampai akhir zaman karena kita bahkan diperintahkan untuk tetap menanam benih yang ada di tangan kita, walaupun seandainya proses terjadinya kiamat sudah mulai.
Contoh pekerjaan lain yang juga insy Allah valid sampai akhir zaman adalah menggembala (memelihara) kambing. Untuk yang satu ini, Imam Nawawi yang sangat mashur dengan kitab yang menjadi rujukan para juru dakwah hingga kini, membahas secara khusus dalam kitabnya Riyadhush Shalihin.
Dalam bab Beruzlah beliau menyampaikan bahwa beruzlah atau menyendiri ketika moral manusia sudah rusak, takut agama ini terfitnah, dan takut terjerumus dalam keharaman dan syubhat, adalah hal yang disunahkan. Nah ketika kita menyendiri dan takut kepada hal yang haram, lantas apa pekerjaan kita untuk menghidupi diri dan keluarga kita? Memelihara kambing, itulah salah satu jawabannya.
Untuk jawaban ini tidak tanggung-tanggung Imam Nawawi memberikan tiga hadis sahih sebagai rujukannya. Berikut adalah hadis-hadis tersebut:
Dari Abu Hurairah R.A., dari Nabi SAW, dia bersabda: "Setiap Nabi yang diutus oleh Allah adalah menggembala kambing". Sahabat-sahabat beliau bertanya: “Begitu juga engkau ?”; Rasulullah bersabda: “Ya, aku menggembalanya dengan upah beberapa qirath penduduk Mekah.” (H.R. Bukhari)
Dari Abu Said berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Hampir saja harta muslim yang terbaik adalah kambing yang digembala di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya dia lari dari beberapa fitnah (kemungkaran atau peperangan sesama muslim).” (H.R. Bukhari)
Dari Abu Hurairah R.A. dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Termasuk penghidupan manusia yang terbaik, adalah seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya di jalan Allah. Dia terbang di atasnya (dia menaikinya dengan jalan yang cepat). Setiap mendengar panggilan perang dia terbang di atasnya dengan bersemangat untuk mencari kematian dengan jalan terbunuh (dalam keadaan syahid) atau mati biasa. Atau seorang laki-laki yang menggembala kambing di puncak gunung dari atas gunung ini atau lembah dari beberapa lembah. Dia mendirikan salat, memberikan zakat, dan menyembah kepada Tuhannya hingga kematian datang kepadanya. Dia tidak mengganggu kepada manusia, dan hanya berbuat baik kepada mereka.” (H.R. Muslim).
Jadi menggembala (memelihara) kambing bukan hanya commercially feasible seperti yang sudah saya tulis sebelumnya; tetapi juga memiliki dasar yang sahih. Maka tidak malu saya berulang kali mengajak para pembaca untuk belajar menekuni profesi yang sering dianggap kuno oleh sebagian orang di zaman teknologi ini. Bagi yang berminat, silakan datang ke lokasi kandang kami di Jonggol dan mulai belajar mempersiapkan diri dengan profesi akhir Jaman. Insya Allah.
(sumber: hidayatullah.com)
Kekerasan dan Ekstremisme Tidak Berasal Dari Islam
Dalam Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Semua pujian dan terima kasih karena Allah, dan kedamaian dan rahmat atas Rasul-Nya. Apakah kekerasan dan ekstremisme merupakan fenomena Islam sekarang ini? Bagaimana kita menjelaskan fenomena kekerasan pada umumnya?Adalah sangat penting untuk dicatat bahwa kekerasan bukanlah sebuah fenomena Islam. Tidak ada titik temu antara Islam dan kekerasan seperti yang dilakukan oleh kelompok teroris di berbagai belahan dunia. Agama yang benar dari Allah swt tidak mengizinkan agresi, kekerasan, ketidakadilan, atau penindasan. Pada saat yang sama, ada panggilan untuk moralitas, keadilan, toleransi, dan perdamaian.
Itu tidak bisa dikatakan bahwa kekerasan adalah fenomena Islam. Kekerasan tidak memiliki agama atau kebangsaan. Jika beberapa kelompok Islam yang terlibat dalam kekerasan dan dianggap ekstremis, juga ada kelompok lain dan bahkan negara yang diketahui karena melakukan tindak kekerasan, seperti Israel, atau kelompok-kelompok Hindu di India.
Kekerasan tidak memiliki kewarganegaraan; itu ada di mana-mana. Daftar individu, kelompok, atau bahkan negara yang menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan-tujuan politik cukup panjang. Israel memiliki catatan terburuk menggunakan kekerasan dan melakukan kekejaman terhadap rakyat Palestina serta Lebanon.
Beberapa orang, terutama kaum Marxis dan komunis pada umumnya, ingin menafsirkan fenomena kekerasan sebagai akibat dari ketidakadilan ekonomi. Kita tidak dapat menyangkal kebenaran dalam penjelasan ini. Al-Qur'an tidak meremehkan faktor keuangan dalam menjelaskan fenomena tertentu seperti membunuh anak-anak agar lepas dari kemiskinan atau karena takut melarat.
Lain menjelaskan kekerasan yang menggunakan skema konspirasi, yang berarti bahwa di balik semua kekerasan ini adalah desain yang sangat kejam. Penafsiran ini cukup populer; dan ini mengurangi tanggung jawab apapun karena orang lain yang bertanggung jawab, dan pada saat yang sama menjadikan kita tidak berdaya, vis-à-vis penindasan politik. Kita menghadapi agama, sosial, dan penindasan politik. Manusia bebas, karena itu kita tidak boleh menerima penerangan ini. Bahkan jika beberapa orang benar-benar bersekongkol melawan kita, apakah betul itu bisa dijadikans ebagai alasan? Mengapa tidak kita membuat rencana kita sendiri? Haruskah kita selalu menjadi korban oleh orang lain?
Sebuah jawaban untuk fenomena ini tidak dapat diterima, karena diperkuat oleh berbagai masalah kompleks. Beberapa alasan di balik fenomena ini dapat dikaitkan dengan faktor-faktor internal, eksternal, psikologis; beberapa dapat disebabkan faktor-faktor intelektual, sedangkan yang lainnya karena faktor sosial ekonomi. Beberapa orang memusatkan perhatian pada faktor-faktor eksternal. Ini bukan tujuan maupun pemikiran ilmiah; harus ada rekonsiliasi antara semua faktor.
Ada banyak faktor untuk fenomena ini:
1. Tidak adanya garis moderat berpikir. Penting bahwa pemikiran Islam yang moderat lazim datang ke tempat terbuka agar banyak orang muda menemukan jalan mereka, bukannya bergerak di bawah tanah.
2. Tidak adanya ulama sejati yang mampu meyakinkan dengan bukti-bukti dari Al-Qur'an dan Sunnah. Ketidakhadiran mereka meninggalkan arena terbuka untuk memenuhi syarat, sementara yang disebut cendekiawan bekerja untuk pihak yang berwenang. Akibatnya, pemuda kehilangan kepercayaan dan mengangkat diri sebagai syekh untuk mengeluarkan fatwa tentang masalah-masalah rumit.
3. Penindasan terhadap rakyat dan kurangnya demokrasi memimpin orang untuk mengambil barang-barang ke tangan mereka sendiri. Penindasan melahirkan kekerasan, dan kekerasan yang melahirkan lebih banyak kekerasan.
4. Tidak adanya penerapan syariah juga merupakan faktor utama, karena banyak negara menyatakan bahwa Islam adalah agama resmi negara, dan lain-lain dapat menambahkan bahwa Islam adalah sumber utama undang-undang. Setelah ini, orang memberlakukan undang-undang yang bertentangan dengan syariah, dan undang-undang seperti itu pasti akan memprovokasi pemuda untuk melakukan tindakan kekerasan.
5. Penyebaran korupsi dan penindasan dalam masyarakat juga alasan untuk frustrasi.
Wallahu alam bi shawwab.
Kekerasan dan Ekstremisme Tidak Berasal Dari Islam
Dalam Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Semua pujian dan terima kasih karena Allah, dan kedamaian dan rahmat atas Rasul-Nya. Apakah kekerasan dan ekstremisme merupakan fenomena Islam sekarang ini? Bagaimana kita menjelaskan fenomena kekerasan pada umumnya?Adalah sangat penting untuk dicatat bahwa kekerasan bukanlah sebuah fenomena Islam. Tidak ada titik temu antara Islam dan kekerasan seperti yang dilakukan oleh kelompok teroris di berbagai belahan dunia. Agama yang benar dari Allah swt tidak mengizinkan agresi, kekerasan, ketidakadilan, atau penindasan. Pada saat yang sama, ada panggilan untuk moralitas, keadilan, toleransi, dan perdamaian.
Itu tidak bisa dikatakan bahwa kekerasan adalah fenomena Islam. Kekerasan tidak memiliki agama atau kebangsaan. Jika beberapa kelompok Islam yang terlibat dalam kekerasan dan dianggap ekstremis, juga ada kelompok lain dan bahkan negara yang diketahui karena melakukan tindak kekerasan, seperti Israel, atau kelompok-kelompok Hindu di India.
Kekerasan tidak memiliki kewarganegaraan; itu ada di mana-mana. Daftar individu, kelompok, atau bahkan negara yang menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan-tujuan politik cukup panjang. Israel memiliki catatan terburuk menggunakan kekerasan dan melakukan kekejaman terhadap rakyat Palestina serta Lebanon.
Beberapa orang, terutama kaum Marxis dan komunis pada umumnya, ingin menafsirkan fenomena kekerasan sebagai akibat dari ketidakadilan ekonomi. Kita tidak dapat menyangkal kebenaran dalam penjelasan ini. Al-Qur'an tidak meremehkan faktor keuangan dalam menjelaskan fenomena tertentu seperti membunuh anak-anak agar lepas dari kemiskinan atau karena takut melarat.
Lain menjelaskan kekerasan yang menggunakan skema konspirasi, yang berarti bahwa di balik semua kekerasan ini adalah desain yang sangat kejam. Penafsiran ini cukup populer; dan ini mengurangi tanggung jawab apapun karena orang lain yang bertanggung jawab, dan pada saat yang sama menjadikan kita tidak berdaya, vis-à-vis penindasan politik. Kita menghadapi agama, sosial, dan penindasan politik. Manusia bebas, karena itu kita tidak boleh menerima penerangan ini. Bahkan jika beberapa orang benar-benar bersekongkol melawan kita, apakah betul itu bisa dijadikans ebagai alasan? Mengapa tidak kita membuat rencana kita sendiri? Haruskah kita selalu menjadi korban oleh orang lain?
Sebuah jawaban untuk fenomena ini tidak dapat diterima, karena diperkuat oleh berbagai masalah kompleks. Beberapa alasan di balik fenomena ini dapat dikaitkan dengan faktor-faktor internal, eksternal, psikologis; beberapa dapat disebabkan faktor-faktor intelektual, sedangkan yang lainnya karena faktor sosial ekonomi. Beberapa orang memusatkan perhatian pada faktor-faktor eksternal. Ini bukan tujuan maupun pemikiran ilmiah; harus ada rekonsiliasi antara semua faktor.
Ada banyak faktor untuk fenomena ini:
1. Tidak adanya garis moderat berpikir. Penting bahwa pemikiran Islam yang moderat lazim datang ke tempat terbuka agar banyak orang muda menemukan jalan mereka, bukannya bergerak di bawah tanah.
2. Tidak adanya ulama sejati yang mampu meyakinkan dengan bukti-bukti dari Al-Qur'an dan Sunnah. Ketidakhadiran mereka meninggalkan arena terbuka untuk memenuhi syarat, sementara yang disebut cendekiawan bekerja untuk pihak yang berwenang. Akibatnya, pemuda kehilangan kepercayaan dan mengangkat diri sebagai syekh untuk mengeluarkan fatwa tentang masalah-masalah rumit.
3. Penindasan terhadap rakyat dan kurangnya demokrasi memimpin orang untuk mengambil barang-barang ke tangan mereka sendiri. Penindasan melahirkan kekerasan, dan kekerasan yang melahirkan lebih banyak kekerasan.
4. Tidak adanya penerapan syariah juga merupakan faktor utama, karena banyak negara menyatakan bahwa Islam adalah agama resmi negara, dan lain-lain dapat menambahkan bahwa Islam adalah sumber utama undang-undang. Setelah ini, orang memberlakukan undang-undang yang bertentangan dengan syariah, dan undang-undang seperti itu pasti akan memprovokasi pemuda untuk melakukan tindakan kekerasan.
5. Penyebaran korupsi dan penindasan dalam masyarakat juga alasan untuk frustrasi.
Wallahu alam bi shawwab.
Kejahilan Pemikiran dan Tantangan Intelektual Islam
Lagi-lagi khazanah intelektual Islam diserang. Ini memang bukan kali pertamanya. Dalam sejarahnya, sudah banyak usaha-usaha yang dilakukan oleh para missionaries lewat gerakan imperialisnya. Mulai dari adopsi peradaban Islam beserta khazanah keilmuannya, sampai kepada misi missionaris yang dilancarkan ke berbagai negara-negara berpenduduk Islam.
Kehadiran missionaris agama di negara-negara Islam adalah suatu gerakan yang komlpeks yang terselubung dalam gerakan-gerakan kebudayaan, bantuan atau aktivitas lainnya. Kegiatan ini bisa berjalan lancar karena mendapat dukungan kaum kapitalis Barat. Dan para sejarawan telah mencatat bahwa gerakan ini dibungkus dalam bentuk kebijakan imperialisme dunia.
Pada mulanya gerakan missionaris ini hanya mengandalkan kekuatan dan tenaga sumber daya manusia. Namun dengan berkembangnya zaman, gerakan ini pun berkembang lebih sistimatis. Meraka membentuk lembaga-lembaga dan berbagai organisasi. Aeten Sezar, seorang penulis Turki telah mengemukakan mengenai hal ini:
“Pada abad ke17 masehi, gereja Katolik Roma yang memiliki kekuasaan atas pemerintahan Eropa, mendirikan Kementerian Propaganda Agama di Vatikan dengan mendirikan dan mengembangkan agama kristen di dunia. Bersamaan dengan gerakan ini, sekolah propaganda agama asing telah dibangun di Paris dengan pembiayaan dari kementrian tersebut. Berbagai institusi juga telah didirikan di Jerman, Perancis, dan Belgia disertai dengan aktivitas misionaris yang berpengaruh. Dalam rangka propaganda ini pula, sekolah-sekolah baru turut didirikan untuk memberikan latihan yang lebih baik kepada misionaris.”
Sampai sekarang arus missionaris itu sangat masih terasa sekali. Meski sekarang sudah tidak dalam bentuk gerakan imperialis. Sekarang misi-misi itu terus dilancarkan lewat berbagai isme, seperti liberalisme, sekularisme, feminisme, maupun pluralisme. Paham-paham ini gencar disebarkan. Namun yang lebih menyedihkan, paham ini disebarkan melalui para intelektul-intelektul Muslim.
Mengapa hal tersebut sampai terjadi?
Ini adalah salah satu akibat dari adopsi peradaban yang kebablasan. Pada awalnya ini sama seperti yang dilakukan Barat ketika zaman kejayaan ilmu pengetahun Islam dulu. Ketika itu Barat begitu terpesona dengan kemajuan Islam di segala bidang. Dari bidang ilmu pengetahuan, seni dan budaya, perdagangan, sampai kepada arsitektur. Dari pesona yang dipancarkan Islam itu, membuat Barat tertarik untuk mempelajari Islam. Akhirnya banyak orang-orang Barat yang datang ke nagara-negara Islam yang menjadi pusat kejayaan pengetahuan dan budaya waktu itu seperti Baghdad, Cordova dan Kairo untuk mempelajarinya.
Hal ini memang lumrah adanya. Suatu peradaban yang tertinggal belajar kepada peradaban yang sudah maju. Sehingga dapat belajar banyak dari peradaban tersebut. Seperti yang dilakukan Barat dulu terhadap peradaban Islam.
Sekarang Barat telah berubah menjadi peradaban yang pesat. Berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi telah dikembangkan di sana. Sementara dunia Islam yang ketika zaman khalifah Mansyur, Harun Al-Rasyid dan Al-Makmun telah mencapai kejayaannya, sedikit demi sedikit luntur. Jatuhnya peradaban Islam tersebut sangat jelas terlihat sejak abad ke-13 sampai sekarang.
Munculnya kembali spirit untuk memajukan peradaban Islam memang patut diacungi jempol. Seperti perahu terbalik, sekarang Barat telah memberi pesona kemajuannya di bidang ilmu pengetahun dan teknologi kepada dunia Islam. Kemajuan pesat Barat ini telah menjadi magnet kuat untuk menarik umat Islam untuk belajar di Barat. Sehingga banyak umat Islam yang pergi ke beberapa negara maju Eropa dan Amerika untuk belajar berbagai disiplin ilmu seperti teknologi, science, filsafat, dan bahkan belajar Islam.
Namun di tengah adanya gesekan atau bahkan perang peradaban antara Islam dan Barat saat ini, ternyata situasi seperti ini membawa keuntungan besar kepada Barat. Perang peradaban ini telah membangkitkan kembali semangat missionaris Barat untuk menghancurkan Islam. Seakan ini adalah Perang Salib episode modern.
Seorang missionaris Henry Martyn (18 February 1781 - 16 October 1812) mengatakan; "Aku datang untuk menemui ummat Islam, tidak dengan senjata tapi dengan kata-kata, tidak dengan kekuatan tapi dengan logika, tidak dalam benci tapi dalam cinta." Ia juga pernah mengatakan bahwa Perang Salib telah gagal. Karena itu, untuk “menaklukkan” dunia Islam perlu dengan resep lain: gunakan kata, logika, dan kasih. Bukan dengan kekuatan senjata atau kekerasan.”
Umat Islam memang terlalu kuat untuk diserang dengan kekuatan senjata. Karena umat Islam memiliki satu senjata ampuh yang tidak dimiliki umat agama lain, yaitu semangat jihad dan mati syahid. Oleh karena itu stategi yang diterapkan mereka untuk menghancukan Islam tidak lagi dengan mengangkat senjata. Melainkan dengan kekuatan logika dan kata-kata.
Mereka telah masuk ke dalam tubuh Islam dan menyerangnya dari dalam. Ini adalah soft strategy yang telah banyak mengecoh umat Islam. Mereka mempelajari Islam untuk menyelewengkan ajaran Islam itu sendiri. Mereka mengembangkan Islamic study di Barat, sehingga menarik intelektual Muslim untuk belajar kepada mereka. Dengan demikian mereka dapat mentransfer paham mereka kepada para intelektul Muslim yang belajar kepada mereka tersebut. Sehingga paham pemikiran mereka dengan cepat mempengaruhi pemikiran Islam.
Mereka sengaja membuat paradigma bahwa peradaban Barat itu telah berjaya dan maju di segala bidangnya. Sementara itu Islam hanyalah peradaban yang ketinggalan zaman. Dengan paradigma tersebut akhirnya umat Islam merasa terpacu untuk meneliti mengapa Islam demikian? Adakah yang salah di dalam Islam? Sehingga akhirnya muncul wacana-wacana untuk memperbaharui Islam. Tapi sayangnya wacana-wacana pembaharuan itu kini menjadi momok bagi umat Islam itu sendiri.
Dasar-dasar Liberalisme
Di Indonesia sendiri, indikasi itu telah muncul sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. Muhammad Tahir Djalaluddin (1869-1956) adalah murid Muhammad Abduh yang paling berjasa dalam ide pembaharuan Islam pertama di Indonesia. Melalui majalahnya al-Imam, Djalaluddin menyebarkan ide-ide pembaharuan Islam Timur Tengah di Indonesia dan Malaysia.
Meskipun sempat redup ketika memasuki zaman kemerdekaan Indonesia, di tahun 1970-an ide-ide liberal ini kembali dilanjutkan oleh Nurcholish Madjid. Dan tak ketinggal Harun Nasution juga turut membawa wacana pembaharuan Islam ini. Dia bahkan telah merubah kurikulum IAIN se-Indonesia dari Ahlus Sunnah ke Mu’tazilah sejak tahun 1975-an. Ide liberalisme ini terus berlanjut sampai kepada berdirinya suatu gerakan terang-terangan Islam liberal pada bulan Maret 2001 yang diusung oleh Ulil Abshar Abdala dan menamakan gerakannya dengan Jaringan Islam Liberal (JIL).
Arus liberal ini tak kunjung redup. Padahal liberalisme dalam penerapannya sangat berbahaya terhadap umat Islam. Ini adalah senjata pemusnah massal untuk merusak Islam dengan semboyan-semboyannya kebebasan berpikir dan toleransi.
Setalian dengan liberalisme, arus feminisme, sekularisme, dan pluralisme juga sangat terasa derasnya. Beberapa waktu lalu, umat Islam kembali dihebohkan dengan terbitnya buku yang berjudul Faith Without Fear oleh Irshad Manji, seorang Muslimah Kanada yang mendapat label “Feminis Abad 21”. Buku ini telah diterbitkan di beberapa negara seperti Pakistan, Turki, Irak, dan India. Dan sempat dilarang peredarannya.
Di dalam salah satu bab bukunya ini tertulis:
“…Al-Quran menasihati umat Yahudi dan Nasrani untuk tetap tenang. Tidak ada yang perlu mereka ‘takutkan atau sesalkan’ selama mereka tetap setia pada kitab suci mereka. Tetapi di sisi lain, Al-Quran secara terang-terangan menegaskan bahwa Islamlah satu-satunya ‘keyakinan yang benar’. Aneh, bukan…?”
Kalimat-kalimat seperti itu dengan jelasnya tertera untuk melecehkan Al-Qur’an. Bagaimana bisa seorang Muslimah bisa mengatakan bahwa Al-Qur’an itu aneh? Tapi inilah kenyataannya. Kenyataan Islam itu diserang dari dalam. Melalui intelektual Muslim itu sendiri.
Itu hanya satu contoh dari sekian banyak contoh betapa gencarnya serangan intelektul kepada Islam. Prinsip-prinsip Islam yang telah kokoh, sedikit demi sedikit mulai digoyahkan secara terang-terangan dan kasar. Mushaf Ustmani diserang melalui periwayatannya, melalui penemuan manuskrip lama, dan melalui tafsiran serta kekuatan intelektual. Hermeneutika dimasukkan sebagai metodelogi penafsiran untuk merusak Islam.
Tantangan bagi intelektul Muslim lebih kompleks lagi. Kemusyrikan dan kemungkaran terus merajalela. Syariat Islam mulai dilecehkan. Sedangkan pergaulan bebas sudah dibudayakan. Liberalisme seakan menjadi trend bagi intelektual muda Muslim. Sekularisme sudah menjamur di dalam sistem pemerintahan. Feminisme semakin gencar untuk menyudutkan Islam dalam memandang wanita. Pembaharuan Islam disalahgunakan untuk rekonstruksi tatanan hukum Islam yang sudah qoth’i.
Sebagai penutup, ketika pelak-pelaku ‘kemusyrikan’ dan kemungkaran itu semua berstatus Muslim, pilihannya adalah apakah kita ikut menjadi bagian mereka atau kita ‘melawan’ mereka? Wallahu a’lam.
[AS/www.hidayatullah.com]
Kejahilan Pemikiran dan Tantangan Intelektual Islam
Lagi-lagi khazanah intelektual Islam diserang. Ini memang bukan kali pertamanya. Dalam sejarahnya, sudah banyak usaha-usaha yang dilakukan oleh para missionaries lewat gerakan imperialisnya. Mulai dari adopsi peradaban Islam beserta khazanah keilmuannya, sampai kepada misi missionaris yang dilancarkan ke berbagai negara-negara berpenduduk Islam.
Kehadiran missionaris agama di negara-negara Islam adalah suatu gerakan yang komlpeks yang terselubung dalam gerakan-gerakan kebudayaan, bantuan atau aktivitas lainnya. Kegiatan ini bisa berjalan lancar karena mendapat dukungan kaum kapitalis Barat. Dan para sejarawan telah mencatat bahwa gerakan ini dibungkus dalam bentuk kebijakan imperialisme dunia.
Pada mulanya gerakan missionaris ini hanya mengandalkan kekuatan dan tenaga sumber daya manusia. Namun dengan berkembangnya zaman, gerakan ini pun berkembang lebih sistimatis. Meraka membentuk lembaga-lembaga dan berbagai organisasi. Aeten Sezar, seorang penulis Turki telah mengemukakan mengenai hal ini:
“Pada abad ke17 masehi, gereja Katolik Roma yang memiliki kekuasaan atas pemerintahan Eropa, mendirikan Kementerian Propaganda Agama di Vatikan dengan mendirikan dan mengembangkan agama kristen di dunia. Bersamaan dengan gerakan ini, sekolah propaganda agama asing telah dibangun di Paris dengan pembiayaan dari kementrian tersebut. Berbagai institusi juga telah didirikan di Jerman, Perancis, dan Belgia disertai dengan aktivitas misionaris yang berpengaruh. Dalam rangka propaganda ini pula, sekolah-sekolah baru turut didirikan untuk memberikan latihan yang lebih baik kepada misionaris.”
Sampai sekarang arus missionaris itu sangat masih terasa sekali. Meski sekarang sudah tidak dalam bentuk gerakan imperialis. Sekarang misi-misi itu terus dilancarkan lewat berbagai isme, seperti liberalisme, sekularisme, feminisme, maupun pluralisme. Paham-paham ini gencar disebarkan. Namun yang lebih menyedihkan, paham ini disebarkan melalui para intelektul-intelektul Muslim.
Mengapa hal tersebut sampai terjadi?
Ini adalah salah satu akibat dari adopsi peradaban yang kebablasan. Pada awalnya ini sama seperti yang dilakukan Barat ketika zaman kejayaan ilmu pengetahun Islam dulu. Ketika itu Barat begitu terpesona dengan kemajuan Islam di segala bidang. Dari bidang ilmu pengetahuan, seni dan budaya, perdagangan, sampai kepada arsitektur. Dari pesona yang dipancarkan Islam itu, membuat Barat tertarik untuk mempelajari Islam. Akhirnya banyak orang-orang Barat yang datang ke nagara-negara Islam yang menjadi pusat kejayaan pengetahuan dan budaya waktu itu seperti Baghdad, Cordova dan Kairo untuk mempelajarinya.
Hal ini memang lumrah adanya. Suatu peradaban yang tertinggal belajar kepada peradaban yang sudah maju. Sehingga dapat belajar banyak dari peradaban tersebut. Seperti yang dilakukan Barat dulu terhadap peradaban Islam.
Sekarang Barat telah berubah menjadi peradaban yang pesat. Berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi telah dikembangkan di sana. Sementara dunia Islam yang ketika zaman khalifah Mansyur, Harun Al-Rasyid dan Al-Makmun telah mencapai kejayaannya, sedikit demi sedikit luntur. Jatuhnya peradaban Islam tersebut sangat jelas terlihat sejak abad ke-13 sampai sekarang.
Munculnya kembali spirit untuk memajukan peradaban Islam memang patut diacungi jempol. Seperti perahu terbalik, sekarang Barat telah memberi pesona kemajuannya di bidang ilmu pengetahun dan teknologi kepada dunia Islam. Kemajuan pesat Barat ini telah menjadi magnet kuat untuk menarik umat Islam untuk belajar di Barat. Sehingga banyak umat Islam yang pergi ke beberapa negara maju Eropa dan Amerika untuk belajar berbagai disiplin ilmu seperti teknologi, science, filsafat, dan bahkan belajar Islam.
Namun di tengah adanya gesekan atau bahkan perang peradaban antara Islam dan Barat saat ini, ternyata situasi seperti ini membawa keuntungan besar kepada Barat. Perang peradaban ini telah membangkitkan kembali semangat missionaris Barat untuk menghancurkan Islam. Seakan ini adalah Perang Salib episode modern.
Seorang missionaris Henry Martyn (18 February 1781 - 16 October 1812) mengatakan; "Aku datang untuk menemui ummat Islam, tidak dengan senjata tapi dengan kata-kata, tidak dengan kekuatan tapi dengan logika, tidak dalam benci tapi dalam cinta." Ia juga pernah mengatakan bahwa Perang Salib telah gagal. Karena itu, untuk “menaklukkan” dunia Islam perlu dengan resep lain: gunakan kata, logika, dan kasih. Bukan dengan kekuatan senjata atau kekerasan.”
Umat Islam memang terlalu kuat untuk diserang dengan kekuatan senjata. Karena umat Islam memiliki satu senjata ampuh yang tidak dimiliki umat agama lain, yaitu semangat jihad dan mati syahid. Oleh karena itu stategi yang diterapkan mereka untuk menghancukan Islam tidak lagi dengan mengangkat senjata. Melainkan dengan kekuatan logika dan kata-kata.
Mereka telah masuk ke dalam tubuh Islam dan menyerangnya dari dalam. Ini adalah soft strategy yang telah banyak mengecoh umat Islam. Mereka mempelajari Islam untuk menyelewengkan ajaran Islam itu sendiri. Mereka mengembangkan Islamic study di Barat, sehingga menarik intelektual Muslim untuk belajar kepada mereka. Dengan demikian mereka dapat mentransfer paham mereka kepada para intelektul Muslim yang belajar kepada mereka tersebut. Sehingga paham pemikiran mereka dengan cepat mempengaruhi pemikiran Islam.
Mereka sengaja membuat paradigma bahwa peradaban Barat itu telah berjaya dan maju di segala bidangnya. Sementara itu Islam hanyalah peradaban yang ketinggalan zaman. Dengan paradigma tersebut akhirnya umat Islam merasa terpacu untuk meneliti mengapa Islam demikian? Adakah yang salah di dalam Islam? Sehingga akhirnya muncul wacana-wacana untuk memperbaharui Islam. Tapi sayangnya wacana-wacana pembaharuan itu kini menjadi momok bagi umat Islam itu sendiri.
Dasar-dasar Liberalisme
Di Indonesia sendiri, indikasi itu telah muncul sejak sebelum kemerdekaan Indonesia. Muhammad Tahir Djalaluddin (1869-1956) adalah murid Muhammad Abduh yang paling berjasa dalam ide pembaharuan Islam pertama di Indonesia. Melalui majalahnya al-Imam, Djalaluddin menyebarkan ide-ide pembaharuan Islam Timur Tengah di Indonesia dan Malaysia.
Meskipun sempat redup ketika memasuki zaman kemerdekaan Indonesia, di tahun 1970-an ide-ide liberal ini kembali dilanjutkan oleh Nurcholish Madjid. Dan tak ketinggal Harun Nasution juga turut membawa wacana pembaharuan Islam ini. Dia bahkan telah merubah kurikulum IAIN se-Indonesia dari Ahlus Sunnah ke Mu’tazilah sejak tahun 1975-an. Ide liberalisme ini terus berlanjut sampai kepada berdirinya suatu gerakan terang-terangan Islam liberal pada bulan Maret 2001 yang diusung oleh Ulil Abshar Abdala dan menamakan gerakannya dengan Jaringan Islam Liberal (JIL).
Arus liberal ini tak kunjung redup. Padahal liberalisme dalam penerapannya sangat berbahaya terhadap umat Islam. Ini adalah senjata pemusnah massal untuk merusak Islam dengan semboyan-semboyannya kebebasan berpikir dan toleransi.
Setalian dengan liberalisme, arus feminisme, sekularisme, dan pluralisme juga sangat terasa derasnya. Beberapa waktu lalu, umat Islam kembali dihebohkan dengan terbitnya buku yang berjudul Faith Without Fear oleh Irshad Manji, seorang Muslimah Kanada yang mendapat label “Feminis Abad 21”. Buku ini telah diterbitkan di beberapa negara seperti Pakistan, Turki, Irak, dan India. Dan sempat dilarang peredarannya.
Di dalam salah satu bab bukunya ini tertulis:
“…Al-Quran menasihati umat Yahudi dan Nasrani untuk tetap tenang. Tidak ada yang perlu mereka ‘takutkan atau sesalkan’ selama mereka tetap setia pada kitab suci mereka. Tetapi di sisi lain, Al-Quran secara terang-terangan menegaskan bahwa Islamlah satu-satunya ‘keyakinan yang benar’. Aneh, bukan…?”
Kalimat-kalimat seperti itu dengan jelasnya tertera untuk melecehkan Al-Qur’an. Bagaimana bisa seorang Muslimah bisa mengatakan bahwa Al-Qur’an itu aneh? Tapi inilah kenyataannya. Kenyataan Islam itu diserang dari dalam. Melalui intelektual Muslim itu sendiri.
Itu hanya satu contoh dari sekian banyak contoh betapa gencarnya serangan intelektul kepada Islam. Prinsip-prinsip Islam yang telah kokoh, sedikit demi sedikit mulai digoyahkan secara terang-terangan dan kasar. Mushaf Ustmani diserang melalui periwayatannya, melalui penemuan manuskrip lama, dan melalui tafsiran serta kekuatan intelektual. Hermeneutika dimasukkan sebagai metodelogi penafsiran untuk merusak Islam.
Tantangan bagi intelektul Muslim lebih kompleks lagi. Kemusyrikan dan kemungkaran terus merajalela. Syariat Islam mulai dilecehkan. Sedangkan pergaulan bebas sudah dibudayakan. Liberalisme seakan menjadi trend bagi intelektual muda Muslim. Sekularisme sudah menjamur di dalam sistem pemerintahan. Feminisme semakin gencar untuk menyudutkan Islam dalam memandang wanita. Pembaharuan Islam disalahgunakan untuk rekonstruksi tatanan hukum Islam yang sudah qoth’i.
Sebagai penutup, ketika pelak-pelaku ‘kemusyrikan’ dan kemungkaran itu semua berstatus Muslim, pilihannya adalah apakah kita ikut menjadi bagian mereka atau kita ‘melawan’ mereka? Wallahu a’lam.
[AS/www.hidayatullah.com]
Qardhawi: Pemikiran Sayyid Quthb Tidak Mencerminkan Ikhwan
Ulama Islam terkemuka Syaikh Yusuf al-Qardawi mengatakan jika genre pemikiran takfir (pengkafiran) ala Sayyid Quthb sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama'ah yang dipegang teguh oleh mayoritas umat Muslim di seluruh dunia.Al-Qardhawi, secara mengejutkan, menyampaikan hal tersebut dalam program acara televisi Manabir wa Madafi (Mimbar dan Debat) di kanal televisi al-Fara'in Mesir pada Jum'at (7/8) kemarin. Dalam acara tersebut, al-Qardhawi berdialog dengan Dr. Dhia Rishwan, peneliti gerakan Islam terkemuka asal Mesir.
Diterangkan oleh al-Qardhawi, yang juga salah satu rujukan utama gerakan Ikhwan, bahwa Sayyid Quthb tercatat mulai bergabung dadn aktif di organisasi keislaman yang memiliki jaringan internasional itu sejak awal tahun 50-an. Pada mulanya, Quthb berpemikiran moderat dan berselaras dengan Ikhwan, namun lama kelamaan, Quthb berubah menjadi lebih konserfativ.
"Genre pemikiran Quthb, yang semula moderat dan mu'tadil, menjadi berubah ke arah yang lebih konservatif di akhir-akhir masa hidupnya, khususnya dalam kitab Ma'alim fi at-Thariq (Rambu-Rambu Jalan)," terang ulama lulusan Al-Azhar itu.
Nah, pada pemikiran Quthb yang terakhir inilah, yang dimaksudkan oleh al-Qardhawi sudah tidak lagi selaras dengan manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah, dan juga Ikhwan.
"Ahlussunnah tidak pernah condong kepada takfir, tidak sebagaimana yang kerap dilakukan oleh sekte Khawarij," jelas al-Qardhawi.
Pemikiran takfir tersebut, lanjut al-Qardhawi, lebih banyak dibuahkan dan dituliskan ketika ia mendekam di dalam penjara.
Meski demikian, jika saja Sayyid Quthb saat itu tidak digantung (pada 29 Agustus 1966) dan diberi kesempatan untuk hidup normal (tidak dalam tekanan politik) dan berbaur dengan masyarakat, niscaya jalan pemikiran Quthb akan berbeda dan kembali lagi kepada manhaj moderat.
Ditanya hubungan dan aktivitas Quthb pada Ikhwan, al-Qardhawi menjelaskan, bahwa Quthb adalah salah seorang yang sangat mengagumi sosok Imam Hasan al-Banna, sang syahid pendiri gerakan Ikhwan. Atas ketertarikan ini, Quthb pun menulis buku berjudul "Hasan al-Banna wa 'Abqariyyah al-Banna" (Hasan al-Banna dan Kejeniusan Seorang Pendiri).
Meski demikian, pada perjalanan selanjutnya, Quthb lebih banyak terpengaruhi oleh pemikiran Abul A'la al-Mawdudi, tokoh Islam sezamannya dari Pakistan. "Pemikiran takfir dan tajhil (mengatakan masyarakat Muslim saat ini adalah jahiliyyah) itu Quthb mengadopsinya dari Maududi, bukan dari al-Banna," terang al-Qardhawi seraya menegaskan jika genre takfir dan tajhil itu bukanlah termasuk pada manhaj Ikhwan.
Dalam hal takfir dan tajhil ini, al-Qardhawi justru mengkritik Quthb. Dikatakannya, Quthb adalah salah satu sosok yang bertanggung jawab, termasuk al-Mawdudi, atas sejumlah genre pemikiran tersebut yang sekarang marak berkembang di sebagian kalangan umat Islam.
Di akhir dialognya, al-Qardhawi menegaskan jika sejatinya pemikiran Quthb lebih kepada pencampuran antara Ikhwan, Salafi, dan Jihadi. Dan di atas semua kritik tersebut, al-Qardhawi tidak menampik banyaknya pemikiran brilian Quthb yang perlu diadopsi oleh umat Islam.
"Quthb juga adalah seorang sosok sastrawan, pemikir, cendikiawan, penafsir, dan tokoh Islam terbesar pada masanya," terang al-Qardhawi.
(source:eramuslim.com)
Qardhawi: Pemikiran Sayyid Quthb Tidak Mencerminkan Ikhwan
Ulama Islam terkemuka Syaikh Yusuf al-Qardawi mengatakan jika genre pemikiran takfir (pengkafiran) ala Sayyid Quthb sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama'ah yang dipegang teguh oleh mayoritas umat Muslim di seluruh dunia.Al-Qardhawi, secara mengejutkan, menyampaikan hal tersebut dalam program acara televisi Manabir wa Madafi (Mimbar dan Debat) di kanal televisi al-Fara'in Mesir pada Jum'at (7/8) kemarin. Dalam acara tersebut, al-Qardhawi berdialog dengan Dr. Dhia Rishwan, peneliti gerakan Islam terkemuka asal Mesir.
Diterangkan oleh al-Qardhawi, yang juga salah satu rujukan utama gerakan Ikhwan, bahwa Sayyid Quthb tercatat mulai bergabung dadn aktif di organisasi keislaman yang memiliki jaringan internasional itu sejak awal tahun 50-an. Pada mulanya, Quthb berpemikiran moderat dan berselaras dengan Ikhwan, namun lama kelamaan, Quthb berubah menjadi lebih konserfativ.
"Genre pemikiran Quthb, yang semula moderat dan mu'tadil, menjadi berubah ke arah yang lebih konservatif di akhir-akhir masa hidupnya, khususnya dalam kitab Ma'alim fi at-Thariq (Rambu-Rambu Jalan)," terang ulama lulusan Al-Azhar itu.
Nah, pada pemikiran Quthb yang terakhir inilah, yang dimaksudkan oleh al-Qardhawi sudah tidak lagi selaras dengan manhaj Ahlussunnah wal Jama'ah, dan juga Ikhwan.
"Ahlussunnah tidak pernah condong kepada takfir, tidak sebagaimana yang kerap dilakukan oleh sekte Khawarij," jelas al-Qardhawi.
Pemikiran takfir tersebut, lanjut al-Qardhawi, lebih banyak dibuahkan dan dituliskan ketika ia mendekam di dalam penjara.
Meski demikian, jika saja Sayyid Quthb saat itu tidak digantung (pada 29 Agustus 1966) dan diberi kesempatan untuk hidup normal (tidak dalam tekanan politik) dan berbaur dengan masyarakat, niscaya jalan pemikiran Quthb akan berbeda dan kembali lagi kepada manhaj moderat.
Ditanya hubungan dan aktivitas Quthb pada Ikhwan, al-Qardhawi menjelaskan, bahwa Quthb adalah salah seorang yang sangat mengagumi sosok Imam Hasan al-Banna, sang syahid pendiri gerakan Ikhwan. Atas ketertarikan ini, Quthb pun menulis buku berjudul "Hasan al-Banna wa 'Abqariyyah al-Banna" (Hasan al-Banna dan Kejeniusan Seorang Pendiri).
Meski demikian, pada perjalanan selanjutnya, Quthb lebih banyak terpengaruhi oleh pemikiran Abul A'la al-Mawdudi, tokoh Islam sezamannya dari Pakistan. "Pemikiran takfir dan tajhil (mengatakan masyarakat Muslim saat ini adalah jahiliyyah) itu Quthb mengadopsinya dari Maududi, bukan dari al-Banna," terang al-Qardhawi seraya menegaskan jika genre takfir dan tajhil itu bukanlah termasuk pada manhaj Ikhwan.
Dalam hal takfir dan tajhil ini, al-Qardhawi justru mengkritik Quthb. Dikatakannya, Quthb adalah salah satu sosok yang bertanggung jawab, termasuk al-Mawdudi, atas sejumlah genre pemikiran tersebut yang sekarang marak berkembang di sebagian kalangan umat Islam.
Di akhir dialognya, al-Qardhawi menegaskan jika sejatinya pemikiran Quthb lebih kepada pencampuran antara Ikhwan, Salafi, dan Jihadi. Dan di atas semua kritik tersebut, al-Qardhawi tidak menampik banyaknya pemikiran brilian Quthb yang perlu diadopsi oleh umat Islam.
"Quthb juga adalah seorang sosok sastrawan, pemikir, cendikiawan, penafsir, dan tokoh Islam terbesar pada masanya," terang al-Qardhawi.
(source:eramuslim.com)
Fenomena Liberal Pada Kalangan Muda
Perang yang dilancarkan musuh-musuh Islam digelar dalam berbagai cara dan di berbagai medan. Ada perang yang menggunakan peluru tajam dan bom, namun ada pula perang yang menggunakan gaya hidup (life-style), yang dalam materi-materi keislaman dikenal dengan istilah Perang Pemikiran atau Perang Kebudayaan (Ghouzwul Fikri). Barat sendiri mengenal istilah itu dengan istilah Perang Peradaban yang dihaluskan menjadi ‘Benturan Peradaban’ (The Clash of Civilization).
Perang Pemikiran yang dilancarkan musuh-musuh Islam antara lain dengan menjerumuskan generasi muda Islam menjadi generasi muda yang suka berfoya-foya, enggan bekerja keras, dan berpikiran sekuler dengan menjadikan orientasi hidupnya demi mengejar kenikmatan kehidupan dunia semata. Tujuan hidup adalah menjadi kaya raya, terkenal, dan populer.
Hal ini sudah lama dirancang oleh Yahudi, di antaranya dimasukkan ke dalam Protocol of Zions yang disahkan menjadi agenda gerakan Yahudi Internasional paska Kongres Zionis Internasional di Swiss tahun 1897 (Protocol ini aslinya terdiri dari 25 pasal, namun kini menjadi 24, silakan search sendiri karena sangat mudah mendapatkannya di internet).
Lalu hal tersebut ditegaskan lagi oleh Samuel Zweimer, Ketua Umum Asosiasi Agen Yahudi pada sambutan pembukaan Konferensi Yerusalem (1935), di mana hadir para utusan agen yahudi dari seluruh dunia. Dalam pidatonya yang juga bisa dicari di internet, Zweimer antara lain menyatakan:
“…yang perlu saudara-saudara perhatikan adalah bahwa tujuan misi yang telah diperjuangkan bangsa Yahudi dengan mengirim saudara-saudara ke negeri-negeri Islam, bukanlah untuk mengharapkan kaum muslim beralih ke agama Yahudi atau Kristen. Bukan itu. Tetapi tugasmu adalah mengeluarkan mereka dari Islam, menjauhkan mereka dari Islam, dan tidak berpikir mempertahankan agamanya. Di samping itu saudara-saudara harus menjadikan mereka jauh dari keluhuran budi, jauh dari watak yang baik.
Oleh karena itu, tugas saudara adalah membuka jalan agar kekuatan kolonial mampu menerobos benteng kerajaan Islam. Cara ini telah Anda lakukan dengan baik seratus tahun lalu. Kita dan seluruh saudara kita sangat gembira dengan hasil perjuangan saudara selama ini. …Sarana yang telah saudara-saudara bawa saat ini ternyata mampu mengubah pikiran dunia mengikuti kita. Itulah jalan yang telah saudara-saudara perjuangkan dengan susah payah untuk mengeluarkan kaum muslimin dari agamanya. Kini saudara-saudara telah berhasil mencetak kader-kader dari berbagai macam bangsa yang tidak mengenal hubungannya dengan Allah dan memang mereka tidak ada keinginan sedikitpun untuk mengerti tentang-Nya. Saudara-saudara telah mengeluarkan kaum muslimin dari agama mereka, sekalipun mereka tetap enggan memakai baju yahudi atau baju kristen. Gaya hidup seperti itulah sasaran perjuangan kita, yakni para pemuda Islam yang malas, enggan bekerja keras, cenderung berfoya-foya, hanya gemar mempelajari segala hal yang berkaitan dengan sensualitas dan nafsu syahwat, bekerja semata-mata demi mengejar kekayaan material dunia semata, memburu jabatan, memuaskan nafsunya, dan sebagainya. Kini tugas saudara-saudara telah terlaksana dengan amat baik. Saudara-saudara telah mengagungkan agama kita semua, agama yahudi. Saudara-saudara patut mengetahui bahwa para tetua kita sangat gembira dengan segala apa yang telah saudara-saudara hasilkan. Oleh sebab itu, lanjutkanlah perjuanganmu demi risalah agamamu. Semoga saudara-saudara semua mendapat berkat dari Tuhan kita, Elohim, Allah yang Maha Suci dan Maha Agung. Lanjutkanlah perjuangan ini hingga dunia benar-benar terberkati…”
Terkait dengan hal tersebut, lebih kurang dua tahun belakangan ini, jika kita cermati kehidupan remaja di berbagai kota besar, terdapat fenomena baru yakni berbondong-bondong mereka pergi ke suatu tempat di pagi hari, bahkan sejak ba’da subuh, untuk menyaksikan konser musik yang biasanya di gelar di pelataran parkir sebuah pusat perbelanjaan atau tempat keramaian lainnya.
Kita bisa melihat, sejak pagi hari, berbagai stasiun tv di negeri ini sudah mencekoki kita dengan berbagai acara konser seperti Inbox, Dahsyat, Derings, Playlist, dan sebagainya. Lalu ada pula Missing Lyrics dan lain-lain. Dan kian kemari, lebih dari 90% acara tv, merupakan acara yang konyol, tidak mendidik, mempromosikan kekerasan, dan sama sekali tidak bermanfaat, seperti berbagai sinetron, reality-show (yang sering sudah direkayasa), musik, dan acara “hiburan” seperti Extravaganza dan semacamnya.
Fenomena ini bagi kebanyakan orang memang tidak terlalu dipusingkan. Namun ketahuilah bahwa di suatu tempat di belahan bumi ini, musuh-musuh Islam tengah tertawa bahagia melihat kondisi saudara-saudara kita ini yang setiap hari disibukkan oleh “Kebudayaan Sampah” ini.
Diam-diam, tanpa disadari banyak orang, umat Islam di negeri ini memang tengah dilemahkan. Generasi muda Islam dibius dengan berbagai budaya pop, antara lain lewat musik sebagai pintu gerbang emas serangan budaya. Sedang generasi yang lebih tua, diserang dengan hal-hal yang lebih dahsyat. Salah satunya dengan kenikmatan hidup duniawi, baik harta, tahta, maupun perempuan, bujukan ideologi, dan sebagainya. Salah satu faktanya, bukan ilusi lagi, adalah bagaimana kenyataan jika sebagian orang-orang yang selama ini disebut sebagai “pemimpin umat” malah bersekutu dengan kaum kafirin dan liberalis dalam memilih imam. Semua itu dilakukan demi kenikmatan duniawi semata dengan berdalih macam-macam, baik dalih rasionalis maupun agamis. Padahal Rasulullah SAW tidak pernah memberikan loyalitasnya pada pemimpin kaum Quraisy sedikit pun.
Jika dulu dan sampai sekarang Barat menyerang umat Islam dengan 3G (Gold, Glory, dan Gospel), maka Barat sekarang juga menyerang umat Islam lewat 3F (Food, Fashion, and Fun). Dalam bukunya, Jihad vs McWorld, Benjamin R. Barber mengatakan jika apa yang terjadi di dunia hari ini adalah pem-Barat-an budaya (westernisasi), yang dilakukan Utara terhadap Selatan. MTV, McDonald, celana jeans, musik ska, dan R & B dan film-film Hollywood kini dinikmati oleh warga dunia ketiga. Budaya Barat tidak lagi milik segolongan orang Amerika, tapi sudah milik dunia. Termasuk negeri-negeri Islam. Apa yang menjangkiti dunia Islam hari ini adalah berkembangnya mazhab selebritis. Indikasinya adalah eksploitasi aurat dalam media massa, yang salah satunya snagat efektif melalui tayangan TV. Film-film seperti Beverly Hills, Dawson Creek, dan Melrose Place, dan juga sinetron-sinetron konyol dan tidak bermutu lokal Indonesia, seolah-olah tontonan maha penting bagi semua orang dibanding rubrik ilmu pengetahuan. Info Selebritis, atau gosip artis, seolah begitu berharga dibanding berita penting lainnya dalam kehidupan. Semua itu, bisa langsung masuk ke kamar kita secara bebas.
Ini merupakan fakta di dalam masyarakat kita. Salah satu hasilnya adalah, fenomena kebangkitan Islam yang pernah booming di sekitar tahun 1980-an, ternyata tidak menghasilkan sesuatu yang berarti. Secara politis umat Islam kalah total dengan kaum liberal, secara budaya demikian pula. Apa yang dihasilkan oleh gerakan Islam di Indonesia sekarang ini dalam bidang peradaban dan penegakan syariah? Secara kasat mata kita harus berendah hati untuk mengakui: NOL BESAR.
Dalam pilpres kemarin, partai-partai yang menjual label Islam justru mendukung ‘imam’ yang tidak mau membubarkan gerakan sesat Ahmadiyah dan yang membela kaum Liberal yang berkiblat ke Amerika, suatu negara Luciferian. Padahal jika Rasulullah SAW masih hidup, pasti akan segera diperanginya.
Dalam bidang pemikiran, gerakan Islam sekarang tidak ada satu pun yang melahirkan kelompok kajian strategis yang mumpuni dan besar, yang mampu mencerdaskan dan membuat umat-Nya kritis. Yang ada, gerakan Islam hanya melahirkan banyak sekali grup nasyid, yang asyik berdendang-ria dan masuk-keluar dapur rekaman. Malah banyak ustadz yang sekarang terobsesi jadi artis, sehingga salah satunya, tanpa risih mengadopsi lagu “Jablay” dan menjadikannya musik gambus dengan mengganti syairnya. Dia bergoyang-goyang sambil menyanyikan lagu “Jablay”tapi diganti liriknya.
Akhirul kalam, inilah kondisi ril umat Islam sekarang. Memang, tidak bisa kita pungkiri juga, ada satu-dua generasi muda Islam yang cemerlang, namun secara keseluruhan, mereka tengah mabuk-kepayang oleh budaya sampah. Akankah mereka akan kita biarkan menjadi generasi sampah juga? Wallahu’alam bishawab.
(source:eramuslim.com)
Fenomena Liberal Pada Kalangan Muda
Perang yang dilancarkan musuh-musuh Islam digelar dalam berbagai cara dan di berbagai medan. Ada perang yang menggunakan peluru tajam dan bom, namun ada pula perang yang menggunakan gaya hidup (life-style), yang dalam materi-materi keislaman dikenal dengan istilah Perang Pemikiran atau Perang Kebudayaan (Ghouzwul Fikri). Barat sendiri mengenal istilah itu dengan istilah Perang Peradaban yang dihaluskan menjadi ‘Benturan Peradaban’ (The Clash of Civilization).
Perang Pemikiran yang dilancarkan musuh-musuh Islam antara lain dengan menjerumuskan generasi muda Islam menjadi generasi muda yang suka berfoya-foya, enggan bekerja keras, dan berpikiran sekuler dengan menjadikan orientasi hidupnya demi mengejar kenikmatan kehidupan dunia semata. Tujuan hidup adalah menjadi kaya raya, terkenal, dan populer.
Hal ini sudah lama dirancang oleh Yahudi, di antaranya dimasukkan ke dalam Protocol of Zions yang disahkan menjadi agenda gerakan Yahudi Internasional paska Kongres Zionis Internasional di Swiss tahun 1897 (Protocol ini aslinya terdiri dari 25 pasal, namun kini menjadi 24, silakan search sendiri karena sangat mudah mendapatkannya di internet).
Lalu hal tersebut ditegaskan lagi oleh Samuel Zweimer, Ketua Umum Asosiasi Agen Yahudi pada sambutan pembukaan Konferensi Yerusalem (1935), di mana hadir para utusan agen yahudi dari seluruh dunia. Dalam pidatonya yang juga bisa dicari di internet, Zweimer antara lain menyatakan:
“…yang perlu saudara-saudara perhatikan adalah bahwa tujuan misi yang telah diperjuangkan bangsa Yahudi dengan mengirim saudara-saudara ke negeri-negeri Islam, bukanlah untuk mengharapkan kaum muslim beralih ke agama Yahudi atau Kristen. Bukan itu. Tetapi tugasmu adalah mengeluarkan mereka dari Islam, menjauhkan mereka dari Islam, dan tidak berpikir mempertahankan agamanya. Di samping itu saudara-saudara harus menjadikan mereka jauh dari keluhuran budi, jauh dari watak yang baik.
Oleh karena itu, tugas saudara adalah membuka jalan agar kekuatan kolonial mampu menerobos benteng kerajaan Islam. Cara ini telah Anda lakukan dengan baik seratus tahun lalu. Kita dan seluruh saudara kita sangat gembira dengan hasil perjuangan saudara selama ini. …Sarana yang telah saudara-saudara bawa saat ini ternyata mampu mengubah pikiran dunia mengikuti kita. Itulah jalan yang telah saudara-saudara perjuangkan dengan susah payah untuk mengeluarkan kaum muslimin dari agamanya. Kini saudara-saudara telah berhasil mencetak kader-kader dari berbagai macam bangsa yang tidak mengenal hubungannya dengan Allah dan memang mereka tidak ada keinginan sedikitpun untuk mengerti tentang-Nya. Saudara-saudara telah mengeluarkan kaum muslimin dari agama mereka, sekalipun mereka tetap enggan memakai baju yahudi atau baju kristen. Gaya hidup seperti itulah sasaran perjuangan kita, yakni para pemuda Islam yang malas, enggan bekerja keras, cenderung berfoya-foya, hanya gemar mempelajari segala hal yang berkaitan dengan sensualitas dan nafsu syahwat, bekerja semata-mata demi mengejar kekayaan material dunia semata, memburu jabatan, memuaskan nafsunya, dan sebagainya. Kini tugas saudara-saudara telah terlaksana dengan amat baik. Saudara-saudara telah mengagungkan agama kita semua, agama yahudi. Saudara-saudara patut mengetahui bahwa para tetua kita sangat gembira dengan segala apa yang telah saudara-saudara hasilkan. Oleh sebab itu, lanjutkanlah perjuanganmu demi risalah agamamu. Semoga saudara-saudara semua mendapat berkat dari Tuhan kita, Elohim, Allah yang Maha Suci dan Maha Agung. Lanjutkanlah perjuangan ini hingga dunia benar-benar terberkati…”
Terkait dengan hal tersebut, lebih kurang dua tahun belakangan ini, jika kita cermati kehidupan remaja di berbagai kota besar, terdapat fenomena baru yakni berbondong-bondong mereka pergi ke suatu tempat di pagi hari, bahkan sejak ba’da subuh, untuk menyaksikan konser musik yang biasanya di gelar di pelataran parkir sebuah pusat perbelanjaan atau tempat keramaian lainnya.
Kita bisa melihat, sejak pagi hari, berbagai stasiun tv di negeri ini sudah mencekoki kita dengan berbagai acara konser seperti Inbox, Dahsyat, Derings, Playlist, dan sebagainya. Lalu ada pula Missing Lyrics dan lain-lain. Dan kian kemari, lebih dari 90% acara tv, merupakan acara yang konyol, tidak mendidik, mempromosikan kekerasan, dan sama sekali tidak bermanfaat, seperti berbagai sinetron, reality-show (yang sering sudah direkayasa), musik, dan acara “hiburan” seperti Extravaganza dan semacamnya.
Fenomena ini bagi kebanyakan orang memang tidak terlalu dipusingkan. Namun ketahuilah bahwa di suatu tempat di belahan bumi ini, musuh-musuh Islam tengah tertawa bahagia melihat kondisi saudara-saudara kita ini yang setiap hari disibukkan oleh “Kebudayaan Sampah” ini.
Diam-diam, tanpa disadari banyak orang, umat Islam di negeri ini memang tengah dilemahkan. Generasi muda Islam dibius dengan berbagai budaya pop, antara lain lewat musik sebagai pintu gerbang emas serangan budaya. Sedang generasi yang lebih tua, diserang dengan hal-hal yang lebih dahsyat. Salah satunya dengan kenikmatan hidup duniawi, baik harta, tahta, maupun perempuan, bujukan ideologi, dan sebagainya. Salah satu faktanya, bukan ilusi lagi, adalah bagaimana kenyataan jika sebagian orang-orang yang selama ini disebut sebagai “pemimpin umat” malah bersekutu dengan kaum kafirin dan liberalis dalam memilih imam. Semua itu dilakukan demi kenikmatan duniawi semata dengan berdalih macam-macam, baik dalih rasionalis maupun agamis. Padahal Rasulullah SAW tidak pernah memberikan loyalitasnya pada pemimpin kaum Quraisy sedikit pun.
Jika dulu dan sampai sekarang Barat menyerang umat Islam dengan 3G (Gold, Glory, dan Gospel), maka Barat sekarang juga menyerang umat Islam lewat 3F (Food, Fashion, and Fun). Dalam bukunya, Jihad vs McWorld, Benjamin R. Barber mengatakan jika apa yang terjadi di dunia hari ini adalah pem-Barat-an budaya (westernisasi), yang dilakukan Utara terhadap Selatan. MTV, McDonald, celana jeans, musik ska, dan R & B dan film-film Hollywood kini dinikmati oleh warga dunia ketiga. Budaya Barat tidak lagi milik segolongan orang Amerika, tapi sudah milik dunia. Termasuk negeri-negeri Islam. Apa yang menjangkiti dunia Islam hari ini adalah berkembangnya mazhab selebritis. Indikasinya adalah eksploitasi aurat dalam media massa, yang salah satunya snagat efektif melalui tayangan TV. Film-film seperti Beverly Hills, Dawson Creek, dan Melrose Place, dan juga sinetron-sinetron konyol dan tidak bermutu lokal Indonesia, seolah-olah tontonan maha penting bagi semua orang dibanding rubrik ilmu pengetahuan. Info Selebritis, atau gosip artis, seolah begitu berharga dibanding berita penting lainnya dalam kehidupan. Semua itu, bisa langsung masuk ke kamar kita secara bebas.
Ini merupakan fakta di dalam masyarakat kita. Salah satu hasilnya adalah, fenomena kebangkitan Islam yang pernah booming di sekitar tahun 1980-an, ternyata tidak menghasilkan sesuatu yang berarti. Secara politis umat Islam kalah total dengan kaum liberal, secara budaya demikian pula. Apa yang dihasilkan oleh gerakan Islam di Indonesia sekarang ini dalam bidang peradaban dan penegakan syariah? Secara kasat mata kita harus berendah hati untuk mengakui: NOL BESAR.
Dalam pilpres kemarin, partai-partai yang menjual label Islam justru mendukung ‘imam’ yang tidak mau membubarkan gerakan sesat Ahmadiyah dan yang membela kaum Liberal yang berkiblat ke Amerika, suatu negara Luciferian. Padahal jika Rasulullah SAW masih hidup, pasti akan segera diperanginya.
Dalam bidang pemikiran, gerakan Islam sekarang tidak ada satu pun yang melahirkan kelompok kajian strategis yang mumpuni dan besar, yang mampu mencerdaskan dan membuat umat-Nya kritis. Yang ada, gerakan Islam hanya melahirkan banyak sekali grup nasyid, yang asyik berdendang-ria dan masuk-keluar dapur rekaman. Malah banyak ustadz yang sekarang terobsesi jadi artis, sehingga salah satunya, tanpa risih mengadopsi lagu “Jablay” dan menjadikannya musik gambus dengan mengganti syairnya. Dia bergoyang-goyang sambil menyanyikan lagu “Jablay”tapi diganti liriknya.
Akhirul kalam, inilah kondisi ril umat Islam sekarang. Memang, tidak bisa kita pungkiri juga, ada satu-dua generasi muda Islam yang cemerlang, namun secara keseluruhan, mereka tengah mabuk-kepayang oleh budaya sampah. Akankah mereka akan kita biarkan menjadi generasi sampah juga? Wallahu’alam bishawab.
(source:eramuslim.com)
